GELOMBANG HASRAT CINTAKU
Kutoreh anganku di riak gelombong hasrat
kutulis asaku tentang sebuah impian
rasa dalam sarwa yang terhampar
pandang menerawang jauh di batas sandikala...
membuncah segala harap tentang dirimu
tentang sebuah rangkulan rindu yang tak lepas.
sosokmu berfose di batas yang tak bertepi
berpadu serasi dengan panorama sahasa
menawan setiap hati yang yang melihat
keindahannya semu dalam siluet nyata
merindukanmu adalah yang terindah kurasakan
tercegal nikmat dengan balut rasuknya
hayalan para sutera tentang keajaiban cinta
mimpi yang masgul yang menjadi kenyataan
kangen padamu adalah nikmat yang mendera
dari angan sang penyinta yang selalu mendamba
tentang rangkulan cinta yang terengkuh
mendekap dinding rasa dengan pelukannya
berkubang angan yang menjalar tak henti
benakpun menatah asa dengan torehan rindu
keinginan yang menyeruak tak terbendung
ibarat melukis badai di samudera angan
harapan menimbulkan kecemasasan
resah menggulai dan gelisah membelai hati
takut dan takut ,jika harapannya tak tergapai
terlukis harap dan kecemasan di benak
karena aku tak ingin jauh darimu
ku buang segala sak wasangka yang merenda.
aku hanya mencintaimu
di riak gelombang jiwa yang menekur pikiran
semua menjadi terasa hambar tanpa dirimu
dada terasa sesak oleh gemuruh kangen
nafas terasa tersendat menyukal tak menentu
karena gunjah rindu ini tak pernah reda padamu
angan menjaring rasa yang berbalut kangen
dapatkah semua ini menjadi realita
hati berdialog dengan persaannya
kemauan dan pikiran berseteru
namun semuanya kubiarkan berlalu
karena rasa cinta telah melumurku
cinta ini tak beranjak sedikitpun jua
cinta telah terpatri kuat dengan tatahannya
Aku hanya mencintaimu kasihku
Gurat cinta ini sangat dalam padamu
Senin, 30 November 2015
ANGIN PANCAROBA MENYIBAK KERINDUAN
ANGIN PANCAROBA MENYIBAK KERINDUAN
Kemarau terasa memanjang
angin serak serak kering berhembus kencang
sesekali titik titik embun mengundang gigil
dingin merasuk di dada bumi
kerinduan semakin berpacu
menggurah rasa hangat di tebing hasrat
angin kian semilir berlalu
cuaca semakin tak menentu
musim pancaroba melukis padha
angin dingin membawa debu berhamburan
namun rasa tak pernah sepi
terus berseloroh dengan rindunya
rasa kangenpun tak mau beranjak
walau angin mengguyur tak karuan
rindu tak pernah berhambur untuk yang lain
rindu mengguris lebam kangen
darah darah cinta memerah
mengalir dengan rasukan angin rindu
angin pancarobapun terus bertiup
menggiring rindu yang semakin mengubang
walau kemarau akan berlalu
rindu ini tak akan bergeming
cinta ini tak akan beranjak
karena rindu sudah menjejal
menggurat cinta yang tak akan terhapus
yang kurasakan hanya cinta yang membara
walaupun musin terus berganti
DEKAPAN DI BELANTARA KASIH
DEKAPAN DI BELANTARA KASIH
Rimba kasih mendekap nafas alam
desah indah tersendat di dada bumi
belantara angan memeluk hembusan gairah
diantara jantung dedaunan yang saling merangkul
berpatuk saling merengkuh
erat tak terlepas
semesta meliris lantun cinta
hasrat saling menggapai
dekapan itu lekat di sumbu rasa
hanya bisikan lembut yang merayap
hangatnya menjalar di sulur sulur gairah
gelinjang angan kian panas
dekapan itu semakin erat
ujung ujung jemari bergetar tak menentu
meraba kedalaman cinta di lubuk kasih
hanya kita yang merasakannya
ketika bara hasrat itu saling memintal
mengayuh keinginan yang sama
rengkuhpun berpadu dalam satu gelora
saling membutuhkan
dekapan di belantara kasih luruh dalam pelukan
berpagut hangat di bibir rimba
saling meraih dengan gejolak seirama
keheningan terasa semakin indah
Jingga saganya hasrat yang bertalut
haru birunya rasa saling berpaut
menggulira dengan binar binar gairah
di relung relung persendian
menyengat hingga palung jiwa yang paling dalam
di sana hanya ada hasrat yang membalut kuat
yang melemahkan seluruh kekuatan
gemertah angan terus berpacu
berkubang membilur jiwa
menggebu tak ayal
merasuk dengan cengkramnya
membelit tak ampun
terkulai dengan lunglai
tak berdaya tuk beranjak
dekapan itu terlampau kuat
mengikat prana prana asmara
luluh tak bepri
hanya ada rasa yang kian menggebu
kubang hasrat kian bergejolak
rasa itu menghujam
gerah panasnya nikmat
menajam menusuk raga
mecerca sanubari dengan luapnya
gairah belantara kasih tak terelakkan
tak mampu berkutik
dari jeruji jeruji keindahan
yang membelit,meregam
hanya luapan dengan hasratnya
dekapan di belantara kasih terus menggulat
tak mau beranjak sejengkalpun
tautan tak ingin saling melepaskan
hanya waktu yang berbicara
karena di sana ada cinta yang tengah membara
KASIHKU PUALAM JIWAKU
KASIHKU,PUALAM JIWAKU
Kasihku
Telah kutoreh anganku di lazuardi hasrat
di lengkung kaki langit yang tak berpigura
di awan yang berarak smara dhahana
pahatan kasih menira di pangkal bayu rasa
rasa terbalut oleh jingga saganya cinta
haru birunya rindu yang menggulat
bara kangen yang menjulang
jelaga hati tak mampu lagi berpaling
hanya dirimu yang mengisi relung hatiku
dengan cinta yang menghujam
rindu yang mengulam kangen yang menjerat
ruah ruah rasa tak terelakkan
kuahnya menggurah dada
sungguh hujaman ini tak tertahankan
aku hanya mengerti ,aku hanya paham,
saat ini,betapa aku merindukanmu
kangeeenn hanya padamu
tak seditikpun,tak secuilpun
hati ini dapat melupakanmu
hati ini telah terpatri ,tertatah dalam
oleh torehan sutera cintamu
kuat membelit,mengunci rapat
tak ada celah sedikitpun jua
untuk berpaling darimu
bilah rindu ini hanya untukmu
tak sejengkalpun ku dapat menjejak
dari ikatan belenggu cintamu
setapakpun ku tak dapat beranjak
karena cinta ini terlampau kuat mengikat
jeratan kekang yang menjeruji
penjara yang penuh pesona
derita yang nikmat
mencegal,mencekal,dengan sulur sulurnya
permata hatiku,pualam jiwaku
Langganan:
Komentar (Atom)



